Microteaching Pendidikan Seni Rupa UNESA: Awali Semester Baru dengan Pembelajaran Interaktif
Surabaya —Kegiatan perkuliahan tahun ajaran 2026 resmi dimulai di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Program Studi Pendidikan Seni Rupa menjadi salah satu prodi yang mengawali perkuliahan dengan pelaksanaan mata kuliah Keterampilan Mengajar dan Pembelajaran Mikro (microteaching) pada Selasa, 3 Februari 2026.
Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Pendidikan Seni Rupa semester 4. Selain menjadi bagian penting dalam kurikulum kependidikan, mata kuliah microteaching juga menjadi prasyarat utama bagi mahasiswa sebelum mengikuti kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) pada semester 6 mendatang. Oleh karena itu, pelaksanaan perkuliahan ini memiliki peran strategis dalam mempersiapkan mahasiswa sebagai calon pendidik yang adaptif, khususnya di bidang Seni Budaya.
Pada pertemuan perdana, seluruh mahasiswa dari beberapa kelas digabungkan menjadi dua kelas utama. Penggabungan kelas ini bertujuan untuk memberikan pengantar mata kuliah secara menyeluruh dan merata kepada seluruh mahasiswa. Setelah itu, mahasiswa dibagi kembali ke dalam beberapa kelompok kecil yang akan berperan aktif dalam pelaksanaan pembelajaran kelas.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan perkuliahan dikemas menggunakan pendekatan diskusi kelompok berbasis permainan (game-based learning). Metode ini digunakan untuk mendorong partisipasi aktif mahasiswa serta menciptakan suasana belajar yang komunikatif dan tidak monoton. Setiap kelas diampu oleh 3 dosen utama yang berperan sebagai dosen pemateri sekaligus fasilitator diskusi.
Dok. Seru!MediaMateri awal yang disampaikan oleh para dosen meliputi pengenalan mata kuliah, gambaran umum capaian pembelajaran, serta pembahasan dasar mengenai etika mengajar. Beberapa contoh yang disampaikan antara lain sikap dan tata cara memasuki ruang kelas, kesiapan guru sebelum memulai pembelajaran, serta pentingnya kesan pertama dalam proses belajar mengajar. Penyampaian materi dilakukan secara serius namun tetap komunikatif, dengan selingan humor agar mahasiswa dapat menerima materi dengan lebih ringan dan mudah dipahami.
Sebagian besar kegiatan kelas pada pertemuan pertama diisi dengan diskusi kelompok kecil. Mahasiswa diminta untuk membahas konsep-konsep dasar seperti pengertian belajar, pembelajaran, mengajar, serta definisi umum microteaching. Hasil diskusi tersebut kemudian dipresentasikan oleh perwakilan kelompok secara bergiliran di depan kelas. Presentasi ini tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan hasil diskusi, tetapi juga untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum serta membangun kepercayaan diri mahasiswa.

Dok. Seru!Media
Diskusi kelas yang berlangsung secara terbuka juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa lain untuk memberikan tanggapan, kritik, maupun pertanyaan. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif dan mendorong mahasiswa untuk berani mengemukakan pendapat. Hal ini dinilai penting mengingat kemampuan komunikasi dan public speaking masih menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi mahasiswa kependidikan.
Salah satu dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Mengajar dan Pembelajaran Mikro, Kartika Herlina Candraning Shiam, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa mata kuliah ini dirancang untuk membantu mahasiswa Pendidikan Seni Rupa menyadari peran gandanya sebagai seniman sekaligus pendidik.
“Kegiatan pengenalan dan pengantar mata kuliah Ketrampilan Mengajar dan Pembelajaran Mikro sangat bermanfaat untuk mahasiswa pendidikan seni rupa yang dikenal dengan ekspresi kreatifnya namun seringkali lupa perannya yang salah satunya sebagai pendidik, jadi mereka dapat membuka perspektif lain, mempraktikkan dan dapat pula mencoba mengasah ulang kemampuan berbicara di depan kelas, pengenalan ini lebih menarik lagi karena dikemas dalam bentuk games kelas,” jelas Kartika.
Antusiasme terhadap pelaksanaan mata kuliah ini juga dirasakan oleh mahasiswa. Indi, salah satu mahasiswa Pendidikan Seni Rupa angkatan 2024, mengaku memperoleh banyak pemahaman baru setelah mengikuti pertemuan pertama microteaching.

Dok. Seru!Media
“Saya jadi lebih memahami perbedaan dari setiap definisi yang dipaparkan. Selain itu, saya juga mengetahui bagaimana peran seorang guru dilihat dari kesan pertama, mulai dari penampilan hingga cara mengajar yang baik. Saya juga jadi lebih paham tentang peran siswa dalam proses belajar dan pembelajaran,” ungkap Indi.
Ia menilai bahwa kegiatan diskusi dan presentasi yang dilakukan di kelas mampu membantunya untuk lebih berani berbicara di depan umum. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bekal awal yang penting sebelum mahasiswa terjun langsung ke sekolah melalui kegiatan PLP.

Dok. Seru!Media
Melalui mata kuliah Keterampilan Mengajar dan Pembelajaran Mikro, para dosen berharap mahasiswa dapat terus menunjukkan antusiasme dan kesungguhan dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal utama bagi mahasiswa ketika memasuki dunia pendidikan sebagai guru profesional di masa depan.
Selain meningkatkan penguasaan teknik mengajar, mata kuliah ini juga diharapkan mampu membentuk sikap dan etika mahasiswa sebagai calon pendidik, serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi dan menyampaikan materi di depan peserta didik.
Reporter: Tim SeruMedia!
Penulis: Fatur Triambudi