SENGKUNI 7 – HARMONI
Serangkaian Ungkapan Karya SeniKuratorial: Dimas Tri Pamungkas / 2025
LATAR BELAKANG
Pameran seni adalah ruang di mana gagasan, pengalaman, dan emosi seniman dipertemukan dengan publik luas. Ia bukan sekadar tempat menampilkan karya, melainkan wahana dialog antara pikiran dan rasa, antara pencipta dan penonton, antara dunia yang terlihat dan dunia yang disembunyikan. Perubahan zaman dengan segala dinamika sosial, budaya, dan politiknya telah membentuk cara manusia menafsirkan dunia, sekaligus memengaruhi bahasa visual yang digunakan para seniman dalam berkarya.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa dan Himpunan Mahasiswa Seni Rupa Murni Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menyelenggarakan pameran Sengkuni (Serangkaian Ungkapan Karya Seni) yang kini memasuki edisi ke-7. Pada tahun 2025 ini, Sengkuni mengangkat tema “HARMONI”, sebuah tajuk yang tidak hanya dipilih sebagai nama, tetapi sebagai dorongan batin untuk melihat ulang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama di tengah dunia yang penuh ketegangan dan perbedaan.
Pameran ini diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan bagi mahasiswa seni rupa, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, sekaligus menjadi tempat menyampaikan pandangan kritis tentang keberadaan manusia dalam jalinan sejarah, sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan.
HARMONI
Oleh: Dimas Tri Pamungkas (2025)
(Gagasan tema Pameran Internasional Sengkuni, UNESA, 2025)
Di tengah riuh rendah dunia hari ini dengan konflik, polarisasi, dan perubahan yang begitu cepat kita merasakan kebutuhan untuk berhenti sejenak dan merenung. Dalam jeda itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tampak sederhana, namun mengguncang kesadaran kita:
Siapa yang membangun jalan yang kini kita pijak? Siapa yang menjaga agar jalan itu tetap terbuka? Dan siapa yang kelak melanjutkannya ketika kita telah tiada?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak lahirnya tajuk “HARMONI”. Tema ini bukan sekadar slogan; ia adalah undangan untuk menyelami kembali hubungan manusia dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui kesadaran bahwa keberadaban dibangun bukan oleh satu generasi saja, tetapi oleh rangkaian manusia yang saling terhubung oleh nilai dan perjuangan.
Pahlawan Masa Lalu: Jarak dan Jejak
Nama-nama pahlawan masa lalu sering hadir dalam buku pelajaran, patung peringatan, atau upacara kenegaraan. Kita mengenang mereka sebagai sosok monumental yang berjasa, namun terkadang jarak emosional tumbuh di antara kemegahan simbolik itu dengan kesadaran kita hari ini.
Apakah kita benar-benar memahami nilai yang mereka perjuangkan?
Ataukah kita hanya mewarisi nama, tanpa mewarisi nurani?
Melalui pameran ini, kita diajak melihat para pahlawan bukan sebagai patung tanpa cela, tetapi sebagai manusia yang berani mengambil keputusan sulit demi orang lain. Harmoni tidak pernah muncul dari kenyamanan, tetapi dari keberanian mengambil risiko demi kebaikan bersama.
Pahlawan Masa Kini: Sosok yang Senyap
Di sekitar kita, kepahlawanan hadir dalam bentuk yang lebih sunyi:
guru yang mengajar tanpa fasilitas memadai, tenaga kesehatan yang bekerja di tempat terpencil, aktivis lingkungan yang menjaga bumi dari eksploitasi,
hingga individu yang memilih jujur ketika semua memilih gampang. Mereka tidak tampil di televisi, tidak disebut dalam pidato seremonial, tetapi mereka adalah penjaga nilai. Tanpa mereka, keseharian kita kehilangan fondasi moralnya. Menghormati mereka berarti merayakan yang biasa yang justru menopang kehidupan.
Pahlawan Masa Depan: Harapan yang Kita Bentuk
Ada pula mereka yang belum tercatat dalam sejarah: generasi yang sedang tumbuh. Mereka sedang belajar, mencari arah, mencoba memahami dunia yang kita wariskan.
Pertanyaannya:
Apakah kita sedang menyiapkan ruang yang adil bagi mereka untuk bermimpi?
Apakah kita memberi teladan yang membuat mereka berani percaya pada masa depan?
Menghormati pahlawan masa depan berarti menjaga harapan tetap hidup melalui tindakan-tindakan kita hari ini.
HARMONI SEBAGAI RUANG KONTEMPLASI
Pameran Sengkuni 7 menghadirkan Harmoni sebagai ruang kontemplatif yang terbuka, di mana karya-karya berfungsi sebagai jembatan antara zaman, pengalaman, dan nilai-nilai manusia. Melalui medium visual, teks, suara, arsip, dan eksperimen artistik, pameran ini mengajak pengunjung:
menyusun ulang fragmen sejarah, melihat realitas masa kini dengan lebih jernih, membayangkan masa depan yang lebih manusiawi.
Harmoni di sini bukanlah keseragaman. Ia adalah keberanian mendengar yang berbeda, mengakui luka, dan merayakan keberagaman sebagai kekuatan. Dalam dunia yang semakin mudah membenturkan perbedaan, Harmoni hadir sebagai pernyataan bahwa kesadaran kolektif dapat tumbuh melalui dialog, bukan melalui penghapusan perbedaan.
RANGKAIAN ACARA SENGKUNI 7
Selain pameran, Sengkuni 7 menyajikan rangkaian kegiatan yang kaya dan beragam. Berikut rangkuman kegiatan berdasarkan jadwal resmi:
1. Art Discussion
“Cultural Work as a Source of Knowledge and Civilization”
Jumat, 14 November 2025 — 15.30 WIB
Narasumber:
Topan Bagus Permadi
Amirahvelda Priyono
Diskusi ini membahas kerja budaya sebagai basis peradaban dan pengetahuan, serta bagaimana seni menjadi medium penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai tersebut.
2. Performance Art
Seni pertunjukan menjadi salah satu daya tarik utama Sengkuni 7, menghadirkan seniman lintas medium:
Bethara Lendir — 13 November 2025
Ryan Herdiansyah — 15 November 2025
Nandana & Shofi — 17 November 2025
Setiap pertunjukan menampilkan interpretasi unik atas tema “Harmony”, mulai dari eksplorasi tubuh, ruang, hingga simbolisme visual dan tekstual.
3. Live Music Performances
Sengkuni 7 juga diramaikan oleh berbagai musisi dan band yang tampil di panggung Harmony Stage:
Day 2 — 14 November 2025
Mala Mati — 19.40 WIB
Neve Nue — 20.20 WIB
Day 3 — 15 November 2025
Rhythm Band — 19.45 WIB
Pawsicles — 20.25 WIB
Day 4 — 16 November 2025
Moure — 18.30 WIB
Nobody’s Perfect — 19.10 WIB
Fallen Rose — 19.50 WIB
Penampilan musik ini memberikan pengalaman multisensori bagi pengunjung, memperkaya suasana pameran melalui kolaborasi antara seni visual dan seni audio.
4. Workshop
Berlangsung selama tiga hari:
15 November 2025 — 15.30 WIB
16 November 2025 — 14.00 WIB
16 November 2025 — 16.00 WIB
Workshop menampilkan berbagai kegiatan kreatif seperti kriya, desain, dan eksplorasi material yang memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk berinteraksi dengan proses seni.
Melalui pameran ini, para seniman melalui perspektifnya masing-masing menghadirkan tafsir atas Harmoni: dari penghormatan kepada pahlawan, refleksi keseharian, hingga pergulatan diri dengan dunia yang terus bergerak.
Pameran ini tidak sekadar meminta pengunjung untuk melihat, tetapi juga merasakan, mempertanyakan, dan mungkin membawa pulang satu kesadaran baru: bahwa Harmoni adalah kerja bersama yang dimulai dari keberanian memberi tempat bagi semua cerita.
Dari pahlawan yang telah pergi, yang masih hidup, hingga mereka yang belum lahir semua adalah bagian dari satu jalinan yang perlu kita rawat bersama.
SENGKUNI 6 - 2024
“TRANSISI”
Ruang dan waktu di dunia ini selalu
berubah yang tidak dapat dihentikan serta dicegah untuk mengalami transisi.
Menurut Maruska Svasek transisi terjadi pada mobilitas objek dan subjek yang
menimbulkan interaksi emosional. Mobilitas subjek dan objek dunia ini selalu
berubah, mulai dari kebutuhan menunjang peradaban manusia untuk bertahan hidup
dengan menciptakan peralatan sederhana, hingga menciptakan teknologi artificial
intelligence untuk berbagai keperluan pada bidang hiburan, kesehatan, ekonomi,
tata kelola, sosial, dan budaya. Mobilitas yang menimbulkan transisi dalam
pameran ini secara garis besar akan mengajak untuk menyadari transisi objek
melalui pengamatan secara inderawi dari hal-hal di sekitarnya (makrokosmos),
sementara transisi secara subjek melalui pengamatan transisi diri secara
subjektif (mikrokosmos) yang keduanya akan bermuara untuk menunjukkan respon
tindakan atas kehendak bebas sebagai manusia, sehingga dapat mewujudkan emosi
dalam karya seni.
Mikrokosmos / jagad kecil (pengamatan
subjek)
Daratan bumi pada awalnya berupa daratan
tunggal yang disebut sebagai “pangea” selama ribuan tahun perlahan-lahan
terendam air yang saat ini dapat dilihat terpecah-pecah menjadi kepulauan kecil
hingga besar (benua). Proses ini memberikan dampak pada evolusi hewan, tumbuhan
dan manusia secara alami hingga melalui rekayasa genetik. Sehingga untuk
bertahan hidup manusia menciptakan aneka objek seperti pakaian, bangunan,
kendaraan, alat makan yang bisa saja berbeda berdasarkan lokasi, iklim, dan
waktu peradaban. Seperti karya seni yang awalnya memiliki nilai sebagai medium
untuk beribadah, menjadi berkembang nilainya dalam kehidupan keseharian.
Transisi benda pada material hingga medium seni juga merupakan mobilitas dari
objek.
Kesadaran
Kesadaran menjadi point penting dalam
menjawab gagasan dari tema transisi ini, karena akan membentuk emosi dan
reaksi. Menurut Abhidhamma proses kesadaran manusia terdiri dari kesadaran
dengan akar dan kesadaran tanpa akar, melalui pembentukan persepsi melalui
pintu indra (mata, telinga, hidung, sensasi tubuh, dan batin). Cara kerjanya
melalui batin yang mempersepsikan objek dan fenomena kemudian kesadaran akan
menentukan pilihan untuk merespon dan melakukan tindakan.
Pameran Sengkuni 6 akan berjuang melakukan
transisi bukan hanya pada tema namun pada pelaksanaannya. Serangkaian ungkapan
karya seni (sengkuni) akan menampilkan karya seni dari berbagai medium, umur,
tempat asal dan representasi seniman dalam menjawab tema dari transisi. Kami
berharap seniman dapat melakukan refleksi dengan pengamatan sekitar, pengamatan
dalam diri ataupun keduanya untuk menjadi manusia yang lebih sadar.
Kurator Sengkuni 6
Shalihah Ramadhanita
Sengkuni 5
