Suwidak Jaran: Enam Puluh Tahun Indah Chrysanti, Pameran yang Membakar Semangat Kriya Logam
Surabaya, 22 April 2026 — Ada yang berbeda di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, Selasa malam (21/4). Suasana hangat bercampur haru membuat pembukaan pameran tunggal seni kriya logam milik Indah Chrysanti Angge , dosen sekaligus seniman yang baru saja memasuki usia ke-60 tahun. Pameran bertajuk “Suwidak Jaran” ini bukan sekadar pameran biasa. Ini adalah ucapan terima kasih, dedikasi, dan pernyataan eksistensi bahwa seni kriya logam masih hidup dan layak diperjuangkan.
Bagi kami di lingkungan Pendidikan Seni Rupa, Bu Indah adalah sosok senior yang tidak asing. Beliau dikenal tekun, ulet, dan tak pernah lelah mengeksplorasi logam—bahan yang dingin, keras, tetapi mampu diolahnya menjadi karya yang hangat dan penuh makna. Enam puluh tahun bukan usia muda, tapi semangatnya justru menyala seperti api. Tema Suwidak Jaran (enam puluh dan shio kuda api) benar-benar terpancar dari setiap goresan palu pada tembaga dan kuningan.

Dok. Seru!media
Kriya Logam di Antara Seni Murni dan Fungsional
Berbeda dengan pameran pada umumnya yang digelar di galeri formal, Bu Indah memilih konsep rumah. Hasilnya, puluhan karya—mulai dari seni rupa hingga seni terapan (sendok, cangkir, hiasan dinding)—tersebar seperti bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengunjung bisa menyentuh, melihat detail, bahkan membayangkan bagaimana sebuah sendok logam bisa menjadi mahakarya.
“Pameran ini bukan sekedar unjuk karya, tapi juga sarana edukasi. Masyarakat dan generasi muda perlu tahu bahwa kriya logam adalah warisan budaya yang luhur,” ujar Bu Indah di sela-sela acara.
Karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil eksplorasi teknik tradisional yang ia tekuni sejak kuliah di ISI Yogyakarta. Proses penciptaan hingga persiapan pameran ini memakan waktu hampir satu tahun. Itulah bentuk keseriusan seorang seniman yang tidak pernah main-main dengan logam.

Dok. Seru!media
Sambutan Hangat Kolega dan Sahabat
Acara pembukaan dikemas dengan nuansa lokal yang kuat: musik patrol, peragaan busana bertema Toraja, hingga jajanan tradisional seperti es potong dan es doger. Tampak hadir para pegiat seni dari Yogyakarta, Solo, Malang, hingga Surabaya. Mereka datang bukan hanya untuk melihat karya, tetapi juga memberi hormat pada perjalanan panjang Bu Indah.
Salah satu yang hadir adalah Bu Santi , dosen yang juga mengajar mata kuliah Kriya Logam di Program Studi S1 Pendidikan Seni Rupa UNESA. Dengan mata berbinar, Bu Santi mengungkapkan kebanggaannya.
"Saya belajar banyak dari Bu Indah. Beliau adalah inspirasi bagaimana logam bisa 'dinyanyikan' menjadi karya yang hidup. Pameran ini seperti penyegaran kembali bahwa kriya logam bukan sekadar kerajinan, tetapi seni tinggi. Selamat untuk Bu Indah, semangatnya menular ke kami semua," ujar Bu Santi di sela-sela menikmati karya.
Ucapan Selamat dari Keluarga Besar Pendidikan Seni Rupa
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelestarian seni kriya logam di Indonesia. Mari terus jaga tradisi, agar tidak tergerus zaman.